Saturday, February 03, 2007

Membuat Paspor

Mengajukan permohonan paspor tidak rumit seperti yang dibayangkan sebelumnya, hanya dibutuhkan kesabaran dan kesadaran sebagai pemohon tentunya di luar persyaratan yang harus dipenuhi, itu saja kuncinya

Karena satu dan lain hal, beberapa minggu yang lalu harus membuat Paspor. Pada awalnya tidak terbayang bagaimana cara-caranya melakukan pengajuan Paspor, apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi dan lain sebagainya.

Berbekal sedikit informasi dari Pak BR dan Pak Andika, serta Ibu Dian -setidaknya beliau-beliau ini sudah memiliki paspor sedari lama-, akhirnya berangkatlah daku menuju Kantor Imigrasi Bandung di Jalan Suci.

Sesampainya di sana, terbaca dengan jelas persyaratan yang dibutuhkan (disesuaikan dengan kebutuhan sang pemohon), yaitu diantaranya adalah:
1. KTP pemohon yang masih berlaku
2. Kartu Keluarga Terbaru
3. Ijazah Terakhir atau Kutipan Akta Kelahiran
4. Surat Keterangan dari Perusahaan

Ada beberapa proses utama saat melakukan pengajuan, yaitu:
1. Mengisi formulir permohonan (formulir permohonan bisa dibeli di loket yang disediakan, harga Rp. 15.000,-)
2. Mengajukan Permohonan (5 hari kerja), tidak dipungut biaya
3. Foto dan Wawancara (Melakukan pembayaran biaya Foto Rp. 55.000, pembuatan paspor sebesar Rp 200.000,- dan sidik jari Rp. 5000,-) setelah tahapan ini dilalui paspor akan diproses selama 2 hari kerja
4. Pengambilan Paspor.

Total waktu yang dibutuhkan selama pembuatan paspor dari awal hingga akhir selama 7 hari (dibulatkan menjadi 10 hari, karena sabtu dan minggu libur).

Tidak sulit, hanya perlu kesabaran saja. Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 275.000,-, mudah dan murah jika dibandingkan dengan pembuatan paspor di luar negeri.

Pengalaman Ber-leasing

Wah, dengan perasaan senang dan lega, BPKB itu bisa diambil, yang berarti si Thunder sudah jadi hak milik secara penuh.


Tidak terasa, 23 bulan telah terlalui dengan sempurna, tidak ada debt collector (istilah yang digunakan untuk pihak ke-tiga sebagai penagih hutang) yang datang ke rumah, alhamdulillah tidak ada kesulitan dalam mekanisme pembayaran, dan tidak mengalami penarikan ulang kendaraan yang dipakai karena nggak sanggup bayar setoran.

Kendaraan bermotor ini -tentunya anda sudah tahu kendaraan apa yang saya maksud-, saya peroleh dengan sistem sewa beli atau biasa dikenal dengan istilah leasing pada sebuah jasa leasing summit oto selama 2 tahun. Kalau tidak salah, sebagai uang setoran pertama dulu sebesar 6.500.000 rupiah dengan setoran perbulan sebesar 509.000,- rupiah, kalau ditotal-total berapa ya? ah, malas ngitungnya. Tentunya ada nilai selisih antara harga beli saat itu dengan harga sewa beli yang saya lakukan. Nilai kendaraan tersebut saat itu adalah sekitar 13.500.000,- rupiah. Jadi berapa selisihnya, silahkan hitung sendiri.

Rasa lega dan syukur terpanjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi, akhirnya bisa tercapai juga untuk memiliki kendaraan bermotor dari uang hasil keringat sendiri, kalau pinjam istilah Om Tukul hasil kristalisasi keringat, dan tidak didapatkan dengan rengekan mama/papa beliin motor dong, hehehe. Just Kidding.

Setidaknya dengan jasa leasing, kita dapat mendapatkan keringanan dan kemudahan dalam rangka mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi jangan melupakan patokan dasar saat kita ber-leasing yaitu disiplin saat melakukan pembayaran, dan tidak menunda-nunda setoran. Kalau tidak patuh dan disiplin, maka apa yang kita leased akan hilang digasak debt collector -tentunya dengan serangkaian proses tertentu-.

Saturday, January 20, 2007

Kembali ke Sawah

"... kembali ke sawah adalah salah satu cara yang cukup mujarab untuk mengembalikan semangat dan pikiran yang sudah terlanjur lemah dan penat ... "

Minggu kemarin, ada kesempatan mengunjungi persiapan pernikahan saudara yang berdomisili di Cianjur. Kebetulan, tidak ada agenda saat itu, jadi diputuskan saja untuk berangkat. Cianjur merupakan tempat berlibur waktu kecil. Masih ingat, Roisz kecil dulu menghabiskan waktu seharian di Sawah dan di Sungai sekedar untuk berjalan-jalan, bermain lumpur, dan atau bermain air yang cukup jernih -saat itu-.

Pengalaman ke sawah saat ini agak sedikit lain. Mungkin aku yang sudah relatif agak gede, hanya bisa memandang jauh bahwa di sana masih banyak anak-anak yang bermain lumpur dan bermain air, mengingatkanku pada kenangan masa kecil dulu.


Pikiran penat, dan semangat yang sudah lemah, karena jenuh melewati arus keseharian di kampus -lagi mudik ke kampus untuk mempersiapkan ujian sarjana-, ngejar dosen, nyiapin makalah, beresin nilai, sebuah keseharian yang cukup melelahkan. Salah satu jalan keluar adalah ke Sawah. Kembali ke sawah adalah salah satu cara yang cukup mujarab untuk mengembalikan semangat dan pikiran yang sudah terlanjur lemah dan penat.

Pulang ke Bandung dengan semangat baru, dan suasana yang baru.

Tiga Minggu Ber-angkot Ria

Begini rasanya tiga minggu berangkot ria, capek. Panas, gerah, dan macet, itu sudah jadi sarapan utama setiap kali berkendaraan. Tak jarang rasa kesal menghampiri tatkala pak sopir kendaraan yang kita tumpangi tidak berlalu lintas dengan baik.

Si Thunder dah selama itu meringkut di rumah, tak bisa dipakai. Dinamo starternya bermasalah, sementara dia tidak punya engkol selayaknya motor-motor yang lain.

Ini memang merupakan sisi kelemahan yang dia punya, ketika salah satu sistem yang utama rusak, dan tidak ada sistem pendukung lainnya, maka tidak bisa dipergunakanlah dia.

Mudah-mudahan seminggu kedepan, setelah diperbaiki, dia bisa kembali berlari seperti biasanya.

Starbucks di Malam Minggu

Berhubung ada pengantin baru, jadi bisa sedikit nongkrong di Starbucks. Seperti biasa, hanya memesan Segelas extra hot coffee latte dan sepiring Blueberry Cheesecakes.

Makasih ndhi, dah ditraktirin. Sering-sering aja ya.