Tuesday, October 11, 2005

wusssh,....

malam merayap semakin hening
sunyi sepi di lereng bukit

seruan adzan dan alunan al fatihah
mengiringi keharuan malam ini

terasa indah di telinga
sebuah pengharapan tanpa basa basi
pada Yang Esa

hmmm,...

aliran jiwa tertuang dalam raga
menahan sendu

tangis dalam genggaman
tiada bisa bersama mereka

dirikan rakaat demi rakaat
bacakan bait demi bait pemujaan
lantunkan asa demi asa
untuk kehidupanku jauh di hari nanti

wussshhhh,...

angin lalu membawa peluhku berlalu

Saturday, October 08, 2005

Setidaknya,...

Setidaknya Ramadhan masih tetap jadi bulan konsumtifisme para kaum Muslimin. Fenomena yang ada ini sudah sangat lama sekali terjadi, tradisi baju baru, celana baru, mungkin sudah biasa. Bahkan di sisi lain ada juga yang heboh dengan tradisi mobil baru.

Jauh dari fenomena tersebut, mungkin kita sebagai umat muslim sudah saatnya berpikir bahwa kita harus menjadi cerminan bagi umat yang lain, itu pun jika memang kita merasakan bahwa kita memiliki fungsi dalam tataran sosial hidup bermasyarakat.

Saya hanyalah orang yang bodoh dan hanya bisa sebatas tataran dialektika. Maaf, bukan hati ingin memberikan kursus atau pelajaran berenang pada seekor itik. Tapi ini hanya opini yang ada dalam alam fikir saya saja.

Toh, begitulah nyatanya.

hmmm,...

Thursday, October 06, 2005

Kesel ama Blog

pas banyak ide buat nulis,...
blog ini nggak bisa diakses,...

hmmm,...

Friday, September 30, 2005

Jalan-jalan

Kali ini kedua kaki dijejakkan di Makassar, sebuah kota di pulau burung, Celebes, atau biasa kita mengenalnya dengan istilah pulau Sulawesi. Kota dengan varian suhu antara 30 - 35 derajat Celcius, selisih suhu yang cukup jauh dengan Bandung yang berkisar antara 22 - 28 derajat celcius. Bisa dibayangkan bagaimana suhu terpanas di Bandung dengan suhu terendah di Makassar.

Keberangkatanku kesana membutuhkan waktu sekitar 2 jam beberapa menit saja, dengan menumpangi boeing 737-400. Pesawat yang cukup lapang, namun sayang perjalanan udara kali ini tidak dapat dinikmati, karena pergi maupun kembali berada jauh dari jendela, tapi semuanya terusir dengan keselamatan yang didapatkan selama perjalanan.

Singkat saja di Makassar, hanya empat hari saja. Tugas lapangan ini memang teragenda dengan cukup padat, harus dibuat se-efektif dan se-efisien mungkin agar tidak banyak waktu terbuang percuma. Niatan untuk menunda kepulangan kembali ke Jakarta pupus sudah ketika diberitakan bahwa tiket pesawat yang sudah di-booked tidak dapat dimundurkan karena pesawat sudah mengalami full booked. hiks.

Makanan, satu hal yang menjadi ciri khas Celebes adalah ikan dan ikan. Ikan menjadi komoditas utama untuk bahan makanan sekaligus menjadi makanan khas dari pulau ini. Dengan harga yang relatif terjangkau kita bisa menikmati sajian ikan yang beraneka ragam. Bahkan ikan yang jarang kita temukan di Bandung atau Jakarta. Sebut saja ikan kaneke, sukang, sunu, dan masih banyak jenis ikan yang lainnya. Udang menjadi alternatif jika memang kita tidak terlalu suka pada ikan-ikanan, seperti saya ini. Ada beberapa resto yang dapat saya rekomendasikan, yang pertama adalah RM Nelayan (lupa lagi dimana alamat pastinya) dan RM Lae-lae disekitar jalan Datu Museng. Dua restoran yang menampilkan sajian dengan cara yang berbeda.

Selain ikan, ada makanan khas dari Makassar, yaitu Coto Makassar. Kesempatan kali ini tidak disia-siakan, Coto Makassar Gagak/Rajawali (nama restorannya) menjadi tujuan utama, rasa Coto yang sangat khas memang tiada duanya. hmmm, gurih dan lezat.

Sayang sekali, disana tidak sekalipun merasakan nikmatnya pisang ijo. sigh. Padahal disini bisa banyak terdapat warung-warung atau toko-toko yang menyajikan pisang ijo tersebut.

Untuk objek wisata, tidak satupun yang bisa dikunjungi, maklum saja jadwal disana sangat padat sekali. Hanya beberapa kali sempat melihat Pantai Losari diwaktu malam dan Benteng Fort Rotterdam di waktu malam juga. Mungkin belum rezekinya kali bisa menikmati objek wisata tersebut.

Saturday, September 24, 2005

Indonesian Idol dan KDI

Indonesia, sebuah fenomena yang ada dan meledak selalu diikuti di Indonesia. Mulai dari trend mode hingga acara pertelevisian. Termasuk di dalamnya adalah kontes pencarian bakat yang dipelopori oleh sebuah TV swasta -saya lupa lagi namanya- dengan tajuk Popstar, kemudian mengekor di belakangnya AFI dan Indonesian Idol, hanya TPI yang berani mendobrak pasaran dengan Kontes Dangdut TPI, yang kemudian diikuti dengan KondangIn yang digawangi oleh Indosiar. Yang paling buncit adalah CILAPOP yang disiarkan oleh Tv7.

Diantara beberapa model itu, hanya dua saja yang menarik perhatian saya, yang pertama adalah Indonesian Idol punya RCTI sama KDI punya TPI.

Nggak jelas chemistry yang ada didalamnya, yang jelas cuma dua bentuk itu yang asik punya.

Monita, I like the voice colour :D